Thursday, October 29, 2015

Hyangga, Salah Satu Jenis Lagu Kuno Korea

Walaupun ada ribuan puisi yang dihasilkan pada masa Tiga Kerajaan (Koguryeo, Silla, dan Baekje), hanya sedikit saja yang tersisa pada masa sekarang ini. Beberapa yang tersisa antara lain adalah 25 buah lagi Silla yang disebut hyangga dan beberapa puisi dalam karakter hanja. Hyangga sendiri berarti 'lagu asli' yang bermaksud agar lagu-lagi ini dibedakan dengan lagu Tiongkok yang saat itu juga populer di masa Tiga Kerajaan. Korea yang tidak memiliki alfabet sendiri untuk menulis, akhirnya meminjam karakter mandarin untuk menulis.

Ada tiga jenis penulisand dengan karakter mandarin yaitu hyangchal, idu, dan hanja.Sistem hyangchal disebut juga sebagai orthographic system, yaitu karakter mandarin digunakan untuk menuliskan lafal bahasa Korea kuno secara fonetik dan semantik. Sistem ini mirip dengan sistem Manyogana di Jepang. Banyak karakter yang digunakan untuk makna yang sama dalam kedua bahasa itu, sedangkan lainnya digunakan untuk menuliskan partikel dan infleksi dalam bahasa Korea. Hyangchal masuk ke dalam jenis penulisan idu, yang memakai karakter mandarin tertentu tak hanya untuk partikel, tetapi juga untuk akhiran dan tata bahasa tertentu. Sedangkan untuk hanja, murni menggunakan penulisan secara mandarin, namun lafalnya saja yang diubah dengan lafal Korea.

Hyangga menggunakan cara penulisan hyangchal sehingga penelitiannya dahulu sulit untuk dilakukan. 14 hyangga yang tersisa ditemukan pada Samguk Yusa (Memorabilia of the Three Kingdoms) dan 11 lainnya ditemukan pada Gyunyeojon (Life of the Great Master Gyunyeo). Hyangga-hyangga tersebut dibuat pada abad ketujuh hingga abad kesepuluh. Hyangga memiliki 3 jenis penulisan.

1 bait dengan 4 baris
Jenis pertama adalah jenis yang paling sederhana. Lagu anak-anak dan lagu daerah menggunakan jenis ini. Contoh hyangga yang termasuk ke dalam jenis ini adalah Song of Seodong (Seodongyo/ 서동요), Ode to Yangji (Pungyo/ 풍요), Dedication to Flower (Heonhwaga/ 헌화가), Song of Tusita Heaven (Durinnorae/ 두린노래). 

원문현대역

,
,
자줏빛 바위 가에
잡은 손 암소를 놓게 하시고
나를 아니 부끄러워하신다면
꽃을 꺾어 바치오리다.
[네이버 지식백과] 헌화가 [獻花歌] (외국인을 위한 한국고전문학사, 2010. 1. 29., 도서출판 하우)

If you would let me leave
The cattle tethered to the brown rock,
And feel no shame for me,
I would pluck and dedicate the flowers!

Hyangga di atas adalah hyangga yang berjudul Heonhwaga yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Peter H. Lee. Hyangga tersebut dinyanyikan oleh seorang pengembara. Ketika Lady Suro, istri dari Lord Sunjeong, menginginkan sekuntum bunga azalea di tebing, tak seorang pun kecuali gembala itu yang berani untuk memanjat tebing dan mengambil bunga tersebut. Gembala itu mengambil bunga itu dan memberikannya kepada Lady Suro sambil menyanyikan lagu ini.

2 bait dengan masing-masing 4 baris
Jenis kedua adalah jenis menengah dari jenis pertama dan ketiga. Contoh hyangga yang termasuk ke dalam jenis ini adalah Ode to Knight Chukchi (Mochukchirangga/ 모죽지랑가) dan Song of Cheoyong (Cheonyongga/ 처용가).

원문현대역
,
.
,

,
.
,
.
서울 밝은 달밤에
밤 늦도록 노닐다가
들어 와 자리를 보니
가랑이가 넷이어라.

둘은 내 것이고
둘은 뉘 것인고.
본디 내 것이지마는
앗아간 것을 어찌하리오.
[네이버 지식백과] 처용가 [處容歌] (외국인을 위한 한국고전문학사, 2010. 1. 29., 도서출판 하우)
Having caroused far into the night
In the moonlight capital,
I returned home and in my bed,
Behold, four legs.

Two were mine,
Whose are the other two?
Formerly two were mine;
What shall be done now they are taken?

Hyangga di atas adalah hyangga yang berjudul Cheoyongga yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Peter H. Lee. Cheoyongga adalah hyangga yang paling terkenal. Penulisnya, Cheoyong, adalah salah satu dari tujuh anak laki-laki Raja Naga dari Laut Timur. Cheoyong menikah dengan seorang wanita yang sangat cantik. Pada saat Cheoyong sedang pergi, ada iblis yang tertarik dengan kecantikan istri Cheoyong dan berubah menjadi seorang laki-laki dan menyerangnya. Pada saat Cheoyong pulang, ia melihat istrinya yang diserang iblis dan kemudian menyanyikan lagu yang membuat iblis tersebut pergi.

3 bait dengan ketentuan 4 baris, 4 baris, dan 2 baris. 
Sedangkan jenis ketiga adalah jenis yang paling rumit tetapi populer. Contoh Hyangga yang masuk ke dalam jenis ini adalah Song of a Comet (Hyeseongga/ 혜성가), Requiem for the Dead Sister (Jemangmaega/ 제만매가), Ode to Knight Gipa (Changiparanga/찬기파란가), Statesmanship (Anminga/ 안민가), Hymn to the Thousand-Eyed Boddhisattva Who Observes the Sounds of the World (Docheonsugwaneumga/ 도천수관음가),  dan Meeting with the Bandits (Ujoeokka/ 우적가).

원문현대역
,
,
,
,

,

,
,

,
.
죽고 사는 길은
여기에 있음에 두려워하여
나는 간다는 말도
못 다 이르고 갔는가?

어느 가을 이른 바람에
여기저기 떨어지는 나뭇잎처럼
같은 가지에 나고서도
가는 곳을 모르겠구나.

아아, 미타찰에 만나 볼 나는
도를 닦으며 기다리겠다.
[네이버 지식백과] 제망매가 [祭亡妹歌] (외국인을 위한 한국고전문학사, 2010. 1. 29., 도서출판 하우)

On the hard road of life and death
That is near our land
You went, afraid,
Without words.

We know not where we go,
Leaves blown, scattered,
Though fallen from the same tree,
By the first winds of autumn.

Ah, I will polish the path
Until I meet you in the Pure Land.

Hyangga di atas adalah hyangga yang berjudul Chemangmaega yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Peter H. Lee. Hyangga ini ditulis oleh Master Wolmyeong sebagai memorinya untuk saudaranya yang sudah meninggal. Temanya adalah kehidupan yang tepisah dari kematian. Bait pertama menggambarkan kehidupan yang berbeda dengan kemarian. Bait kedua menggambarkan kematian melalui sebuah pohon di musim gugur.

Daftar pustaka:

H. Peter, Lee. A History of Korean Literature. Singapore: Cambridge University Press, 2003.
Kichung, Kim. An Introduction to Classical Korean Literature. New York: M. E. Sharpe, 1996.
배규범, 부옥파, 외국인을 위한 한국고전문학사. 서울: 도서출판 하우, 2013.
조동일. 한국문학통사 1. 파주: 지식산업사, 2014.

Tuesday, October 6, 2015

Arirang Festival

Buku acara, tiket, dan selimut Arirang Festival (dok. pribadi)
Saya dan teman-teman berkesempatan untuk menonton Festival Arirang yang diadakan di Istana Gyeongbok (Gyeongbokgung) pada tanggal 5 Oktober 2015. Festival ini diadakan sebagai salah satu rangkaian acara peringatan kemerdekaan Korea Selatan ke-70. Korea Selatan sendiri merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945, hanya berbeda dua hari dengan Indonesia. 

Panggung yang dipasang di depan Istana Gyeongbok (dok. pribadi)
Di dalam festival ini, berbagai macam bentuk Arirang dinyanyikan. Dari mulai beberapa jenis nyanyian rakyat Arirang yang berbeda, hingga Arirang yang digubah dengan jenis musik jazz, hip hop, dan sebagainya. Arirang sendiri sebetulnya adalah nyanyian rakyat (minyo/민요) yang memiliki berbagai jenis versi namun yang paling sering dinyanyikan adalah versi Gyeonggi Arirang.

Parade tarian dan pungmulnori (dok. pribadi)
Acara dibuka dengan parade para penari dan pemain samulnori dan dilanjutkan dengan permainan musik dan tarian tradisional Korea. Setelah itu dilanjutkan dengan nyanyian Arirang tradisional oleh Kim Yeongim. 

Ailee membawakan salah satu lagunya yang berjudul Singing Got Better (dok.pribadi)

Kemudian acara dilanjutkan dengan Youth Stage dengan artis-artis idola muda, yaitu SISTAR, Kim Taewoo, dan Ailee. Arirang kemudian dinyanyikan oleh berbagai artis lain dalam berbagai bentuk seperti hip hop arirang, festival arirang, dan jazz arirang. Grup SG Wannabe juga tampil membawa lagu hits mereka dan menyanyikan juga lagu arirang. Acara dilanjutkan dengan lagu Gang Gang Sulai yang dinyanyikan oleh Song Sohee. Song Sohee adalah salah seorang penyanyi lagu tradisional Korea berbakat yang sangat terkenal akan kemampuannya menyanyikan sijo dan pansori.

Song Sohee (sumber: http://www.allkpop.com/article/2015/02/17-year-old-gukak-musician-song-so-hee-sued-for-not-properly-sharing-profits-with-her-agency)
Yang menarik adalah Global Arirang, yaitu paduan suara yang menyanyikan Arirang. Anggotanya terdiri dari orang-orang Korea yang tinggal di luar Korea, keturunan Korea Utara, dan orang-orang asing. Bahkan ada orang Indonesia yang bernama Vicky Jasmine ikut dalam paduan suara ini lho!

Global Arirang (dok. pribadi)
Acara dilanjutkan dengan lagu Pinochio yang dinyanyikan oleh penyanyi veteran Korea, Insooni. Akhir dari acara ini adalah para penyanyi dan penonton diajak untuk menyanyi Arirang bersama. Menurut saya, konsep acara dan juga latar panggung sangat bagus, akan tetapi manajemen acaranya cukup buruk. Penonton diminta untuk mendaftar di website dan mengantri untuk masuk dua jam sebelum acara. Penonton bisa masuk mulai jam enam dengan cukup tertib. Awalnya bangku depan dikosongkan namun 10 menit sebelum acara dimulai, penonton yang tidak memiliki tiket dipersilahkan masuk dan dapat duduk di baris depan. Acara pun terlambat 5 menit dari jadwal.

Tuesday, September 29, 2015

Hansi Berjudul "Jeju" Karya Pangeran Gwanghae

Cha Seung Won sebagai Pangeran Gwanghae di drama Hwajung (sumber: http://www.kdramastars.com/articles/79653/20150327/cha-seung-won-wants-to-portray-a-thoughtful-prince-gwanghae.htm) 


Pangeran Gwanghae (1575-1641) adalah raja kelima belas Joseon. Ia menjadi raja pada tahun 1608 hingga 1623. Ia menjadi putra mahkota setelah maju melawan invasi Jepang ke Korea (임진왜란) pada tahun 1592-1598 (informasi singkat: https://id.wikipedia.org/wiki/Invasi_Jepang_ke_Korea_(1592-1598)). Ia menjadi populer di antara masyarakat Joseon setelah menduduki posisi putra mahkota karena ia berusaha keras untuk menyudahi krisis kerajaan dengan menambah kekuatan militer Joseon, Ia menjadi seorang raja setelah perang selesai. Di dalam istana, ia memperbaiki hukum-hukum sebelumnya yang cacat. Di luar istana, ia memperbaiki hubungan asing dengan pihak Tiongkok dan Jepang. Setelah kudeta yang menjadikan Injo sebagai raja baru, ia diasingkan ke Pulau Ganghwa dan kemudian ke Pulau Jeju. Di Pulau Jejulah ia menghembuskan nafas terakhirnya. Ia banyak digambarkan di drama dan film modern. Seo In Guk di drama The King's Face dan Cha Seung Won di drama Hwajung merupakan beberapa penggambaran karakter Pangeran Gwanghae di dalam saeguk (drama sejarah).

濟州

風吹飛雨過珹頭
瘴氣薰陰百尺樓
滄海怒濤來薄幕
碧山愁色帶淸秋
歸心厭見王孫草
客夢頻驚帝子洲
故國存亡消息斷
烟波江上臥孤舟

제주에서

몰아치는 비바람 속에 성 앞을 지나니
후덥지근한 장독 기운이 백 척 누각에 자욱하구나.
푸른 바다의 성난 파도 어스름 저녁에 들이치고
푸른 산의 슬픈 빛은 가을 기운을 띠고 있네.
돌아가고픈 마음에 봄풀을 실컷 보았고
나그네 꿈은 제주에서 자주 깨었네.
고국의 존망은  소식조차 끊어지고
안개 낀 강의 외로운 배에 누워 있네.

Hansi adalah satu genre puisi klasik Korea yang memiliki 4 atau 8 baris dengan 7 kata pada setiap barisnya. Hansi dituliskan seluruhnya dengan menggunakan hanja (karakter mandarin tradisional). Pada hansi yang memiliki 8 baris, baris pertama dan keduanya adalah pembuka, baris ketiga hingga keenam adalah isi, serta baris ketujuh dan kedelapan adalah penutup. Namun, pada saat ini, banyak hansi yang sudah diterjemahkan ke dalam bentuk hangeul. Salah satunya adalah puisi berjudul "Jeju" yang dikarang oleh Pangeran Gwanghae. Puisi ini belum ada terjemahan bahasa Inggrisnya. Saya akan menerjemahkannya ke dalam bentuk terjemahan lepas dalam pembahasan berikut yang juga diambil dari buku <한국한시감상> yang dikarang oleh dosen-dosen sastra klasik di berbagai universitas di Korea, salah satunya adalah Prof. Ahn Younghoon, dosen sastra klasik Kyung Hee University.

Setelah Pangeran Gwanghae diturunkan dari tahta dan diganti oleh Raja Injo, ia masih hidup dalam pengasingan selama 18 tahun. Ia lebih lama hidup dalam pengasingan dibandingkan hidup sebagai seorang raja. Ia pun mengalami banyak kesulitan hidup setelah dibuang ke pengasingan. Anaknya, yang dahulu adalah seorang putra mahkota, wafat setelah meminum racun dan istrinya bunuh diri setelahnya. Dua tahun setelah pergi ke pengasingan, istri Pangeran Gwanghae, yaitu Ratu Yoo, pun wafat. Setelah berpindah-pindah tempat pengasingan selama beberapa kali, akhirnya Pangeran Gwanghae menghembuskan nafas terakhirnya pada umur 66 tahun.

Pangeran Gwanghae menuliskan puisi berjudul "Jeju" pada masa pengasingannya di Pulau Jeju. Ia mengekspresikan kerinduannya untuk mengetahui keadaan yang ada di luar Pulau Jeju dalam puisi ini. Baris pertama dan kedua jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi 'kemarahan yang ada di dalam angin hujan di luar benteng sana, rupanya hanya lewat begitu saja karena tebalnya tembok benteng yang tak dapat ditembus oleh udara yang lembab'. Baris ini adalah pembuka dari puisi "Jeju" yang menggambarkan kemarahan Gwanghae yang ada di Jeju.

Baris ketiga dan keempat jika diterjemahkan menjadi 'kemarahan gelombang laut biru datang di kala senja, cahaya kesedihan dari gunung biru mengirimkan udara musim gugur'. Hal ini menggambarkan hari Gwanghae yang sedih dan marah di pengasingannya di Pulau Jeju. Baris kelima dan keenam jika diterjemahkan menjadi 'aku melihat rerumputan musim semi di hati yang ingin kembali, rupanya seorang pengembara sering terbangun dari mimpinya di Jeju'. Gwanghae menggambarkan tahtanya yang direbut sehingga membuat dia seakan menjadi pengembara yang tak ada tujuan. Bagian isi ini menggambarkan kesedihan yang dialami Gwanghae,

Bagian penutup dapat diterjemahkan sebagai 'tak ada kabar apakah negaraku masih ada atau tidak, bagaikan diriku yang berbaring di dalam kesepian di kapal yang tertutupi kabut sungai'. Baris ini sangat menggambarkan kesepian dan kesedihan yang dialami oleh Gwanghae dalam pengasingannya. Bahkan di dalam analek Injo (인조실록), disebutkan bahwa para cendekiawan menangis pada saat membaca puisi ini.

Menghabiskan Liburan Chuseok di Namsangol Hanok Village

Pada liburan Chuseok 26-29 September ini, saya memutuskan untuk mencoba berjalan-jalan ke Namsangol Hanok Village yang terletak di Seoul. Namsangol Village terletak tidak jauh dari Stasiun Chungmuro pintu keluar 3. Hanok Village ini buka setiap hari kecuali hari selasa pada pukul 09.00 hingga 21.00 di bulan April- Oktober dan pukul 09.00 hingga 20.00 di bulan November-Maret. 

sumber: http://www.ajunews.com/view/20150921215417062

Acara khusus Chuseok ini hanya ada di tanggal 27-28 September 2015 pada pukul 11.00-18.00 dan saya memutuskan untuk pergi kesana pada tanggal  28 September 2015. Awalnya saya ingin datang pagi namun akhirnya saya sampai di tempat ini pada pukul 14.00. Jumlah pengunjung yang datang ke tempat ini sangat banyak pada hari itu karena merupakan hari kedua Chuseok. Banyak keluarga yang pergi untuk berwisata.
Pintu masuk Namsangol Hanok Village (dok. pribadi)

Hanok Village ini berisikan 5 hanok (rumah tradisional Korea) dari rumah bangsawan hingga rumah orang biasa. Para pengunjung bisa melihat rumah-rumah tradisional Korea yang ada di zaman dahulu. Tak hanya bentuknya saja dari luar, para pengunjung pun bisa melihat-lihat ke dalam rumah tersebut untuk dapat mengetahui isi rumah tradisional Korea pada zaman dahulu.
Namsangol Hanok Village terletak di tengah Kota Seoul, ibukata Korea Selatan (dok. pribadi)
Tak hanya Hanok saja, ada pula Gugakdang (traditional theater), taman tradisional, Seoul Millenium Time Capsule, dan juga art shop. Gugakdang ini terletak di dalam gedung hanok. Selain itu, yang menarik adalah adanya time capsule yang dibuat pada tahun 1994 untuk merayakan 600 tahun berdirinya kota Seoul. Di sana ada 600 barang yang dikubur dan direncanakan untuk dibuka pada 29 November 2394, yaitu pada perayaan 1000 tahun berdirinya kota Seoul.
Pengunjung berdiri mengelilingi time capsule yang dikubur di dalam tanah (dok. pribadi)
Pada hari biasa, kita bisa mencoba baju tradisional Korea, yaitu Hanbol. Selain itu kita dapat belajar menulis hangeul, membuat kerajinan kertas, belajar etiket tradisional Korea, dan merasakan pengobatan tradisional Korea. Di bulan Maret dan November, ada pula upacara pernikahan tradisional Korea yang diadakan di depan sebuah gedung Hanok. Upacara ini hanya ada di hari Sabtu dan Minggu pada pukul 11.00, 13.00, dan 15.00.
Pertunjukan Samulnori, permainan alat musik tradisional Korea (dok. pribadi)
Pada puncak perayaan Chuseok ini, ditampilkan berbagai macam permainan tradisional Korea seperti yutnori, ttakji, dan sebagainya. Anak-anak juga bisa mengikuti kelas untuk belajar membuat songpyeon (kue tradisional Korea) dan juga mencoba alat-alat pertanian yang dipakai oleh para petani di Korea. Makanan-makanan tradisional juga banyak dijual di perayaan ini.
Salah satu permainan tradisional yang dicoba oleh seorang anak (dok. pribadi)

Orientasi Mahasiswa Baru di Korea Selatan


Saya menginjakkan kaki di Korea Selatan untuk melanjutkan studi saya di program magister (S2) di salah satu universitas di Korea Selatan. Sama seperti kampus-kampus pada umumnya di berbagai belahan dunia, universitas di Korea Selatan juga memberikan orientasi kepada mahasiswa-mahasiswa barunya. Pada artikel kali ini, saya akan berbagi pengalaman saya sebagai mahasiswi baru program magister di universitas K di Seoul, Korea Selatan.



Orientasi dimulai pada pukul 13.00 waktu setempat dan dijadwalkan akan selesai pada pukul 17.00 waktu setempat. Di Korea Selatan, semua acara dimulai tepat waktu dan tidak dikenal istilah 'ngaret' seperti lazimnya yang terjadi di Indonesia. Pada awalnya saya pikir orientasi akan disampaikan dalam bahasa Inggris karena pesertanya adalah mahasiswa asing dalam program magister dan doktor. Namun ternyata semenjak awal, orientasi dimulai dengan bahasa Korea, sehingga mau tidak mau jika ingin masuk ke universitas di Korea Selatan harus bisa berbahasa Korea karena pengenalan kampus pun disampaikan dalam bahasa Korea. Orientasinya pun hanya berupa pengenalan kampus.


14092150631851685880
Salah Satu Buku Panduan



Acara orientasi tentu saja dibuka dengan pidato pembuka dari Dekan. Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan kampus oleh senior mahasiswa asing dan pegawai kantor administrasi. Presentasi pertama adalah penjelasan mengenai kehidupan yuhaksaeng/유학생 (mahasiswa yang kuliah di luar negaranya sendiri). Kami dijelaskan bagaimana seorang yuhaksaeng bisa belajar, beradaptasi dengan lingkungan, dan mendapatkan teman baru. Kami juga dijelaskan mengenai budaya senior-junior yang sangat kental di Korea Selatan dan juga mengenai budaya minum di Korea Selatan. Presentasi kedua adalah mengenai kehidupan perkuliahan. Mereka menjelaskan mengenai cara menulis makalah dan tesis di dalam dunia perkuliahan, kemudian cara memilih mata kuliah. Program magister dapat lulus dengan nilai minimal B- dan 24 sks (tidak termasuk tesis) dalam 2 tahun, sedangkan program doktor doktor dapat lulus dengan nilai minimal B- dan 36 sks (tidak termasuk tesis) dalam 2 tahun. Dijelaskan pula mengenai cara-cara mendapatkan beasiswa di kampus K tersebut. Setelah kedua presentasi itu selesai, senior mahasiswa asing menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk kami, para mahasiswa baru.


14092157172102997420
Makanan Ringan Korea



Kami diberikan waktu istirahat 20 menit untuk menikmati makanan dan minuman yang disediakan oleh senior kami. Selanjutnya adalah kuliah umum dari profesor mengenai pelecehan seksual. Hal ini yang tidak ada di orientasi di Indonesia pada saat saya kuliah S1 dahulu. Dalam kuliah umum ini, mahasiswa asing diajarkan untuk mengenal apa itu pelecehan seksual dan bagaimana menghadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Kami diajarkan bagaimana pula mengenali korban pelecehan seksual di sekitar dan bagaimana membantu mereka. Kami diberikan peluit yang berguna apabila kami dilecehkan oleh orang lain. Kami juga dibekali dengan alamat dan nomor telepon polisi untuk melapor apabila terkena pelecehan seksual. Ini adalah kuliah yang sangat berguna, terutama bagi mahasiswa asing yang belum mengenali lingkungan di sekitarnya.

Presentasi terakhir adalah mengenai asuransi bagi mahasiswa. Kampus menyediakan asuransi kesehatan bagi mahasiswa dan mahasiswa harus mendaftar agar kesehatannya terjamin. Ini merupakan hal lain lagi yang baru saya ketahui. Dengan adanya asuransi ini, kami sebagai mahasiswa tidak harus pusing apabila sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Setelah presentasi ini selesai, kami pun bisa pulang lebih awal pada pukul 16.00.

Pernah diposkan di Kompasiana pada 28 Agustus 2015 (link: http://www.kompasiana.com/margareth.mega/orientasi-mahasiswa-baru-di-korea-selatan_54f5edf8a3331107038b45be)